Bagai kuas bagi lukisan , usia memupuk pengetahuan
Kian memulas kian jelas, sebuah gambar dunia diatas kanvas
Hitam putih berkesan dalam, warna-warni tak membosankan
Biar tinta habis selautan, walaupun kertas sudah sedaratan
Siapa berani berkata, telah puas pelukis berkarya ?
( Dida Dikjaya , 2012)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Maret 2010

TENTANG DEMOKRASI DI SEPENGGAL HARI

          Aku sedang bercermin, ketika sambil lalu ibu bertanya, " Kenapa seh de' mahasiswa makin beringas saja ?" aku abaikan pertanyaan itu, seolah tak peduli kusibukan diri pada tataan rambutku, padahal hati rusuh juga. Pertanyaannya memang wajar saja bila melihat perkembangan berita akhir-akhir ini , tentang bentrok mahasiswa dengan aparat kepolisian, dengan warga!! bahkan mungkin kata bentrok tak lagi mencukupi lantaran permusuhan tak sekedar terjadi di suatu lapangan aksi tapi sudah menjamur dihati, dibawa kemana-mana hingga bila ingin melampiaskan birahi benci boleh jadi saling mendatangi. Lantas mengapa pertanyaan ini ditanyakan padaku? karena aku mahasiswa? mungkin, tapi kan abangku yang sedang menonton telivisi saat itu juga seorang mahasiswa? dua tahun lebih lama bersama almamternya? ah rupanya ibu tahu, almamaterku lama tak bergantung manis di lemari kayu sebagaimana punya abangku. Yang ibuku tak tahu adalah, bahwa alamamater itu sekedar dipinjam tanpa dipulangkan oleh seorang rekan. sudah biasa, urusan kecil yang tak dipusingkan toh yang dipinjamkan pasti ikhlas, sahabat baik bukan? tapi mudah-mudahan korupsi di negeri ini tidak dengan logika yang sama ia berdiri. Keyakinan aneh bahwa rakyat yang murah hati akan mengikhlaskan hak mereka dinikmati sebagian, besar!! bukan pada keharusannya tapi entah untuk apa. Jadi kepada peminjam tanpa pemulangan, catat ini, bahwa temanmu lebih murah hati dari pada rakyat kita. catat! mekipun kita bukan orang yang menyetuji bila seorang penguasa menuntut kemurahan dan kelapangan hati rakyat atas kekejian yang mereka lakoni? 
          
         Tidak seperti yang ibuku duga, kesibukan jalanan mahasiswa seperti demonstrasi, tak lagi kulakoni, setidaknya tahun-tahun belakangan ini. Anaknya terlalu dungu untuk mengerti soal politik, tak cukup waktu menyelaminya agar mantap menetukan sikap, melakukan tindak! Sebaiknyalah mendalami segala sesuatu sebelum menyampaikan pendapat dan menentukan sikap adalah kalimat bijak yang selalu ku ingat. tapi bila tak mampu lekas dan mudah mengerti sebagaimana yang lain apa mau dikata? sedangkan urusan yang lain telah bosan terus menerus dizhalimi. Bukan! sungguh bukan tak peduli, hati resah juga sama seperti rekan-rekan lainnya. hanya saja bagi kedunguanku permasalahan yang sering kami geluti tampak rumit, kompleks dan tak terkira ujung soalnya, bikin putus asa saja! tak tahu benar salah yang ku lakukan jadinya. Aku tahu, ibu juga tak terlalu menuntut jawaban atas pertanyaanya. Sedang aku sendiri tak sampai hati menyulitkannya dengan berbagai kerumitan yang aku sendiri tak mengerti, cukup sudah bebannya yang suci atas rumah tangga dan penyakit yang ia derita. Jadi pertanyaan itu pun tak berujung jawab. Namun persoalan ini mengikutiku aktivitasku di hari itu. 

          Sebagian hatiku tidak terima sifat beringas yang di gunakan ibu memang, tapi sebagiannya lagi tak membuta mata dan menulikan telinga atas berita di telivisi dan surat kabar. Mungkin ibu benar, kita telah jadi beringas, mungkin... tapi soal mengapa, tak tahulah... yang jelas dengan kejadian ini kita menelan dua ketakutan besar sekaligus. yang pertama ketakutan akan anarkisme massal dan mewabah menjadi suatu budaya di alam demokrasi indonesia. Kedua adalah ketakutan akan kerasnya tindakan yang diambil untuk menghadangnya justru berbau keringat seorang diktator. sungguh, keduanya menaktutkan. sangat amat pahit. Sampai pada sore hari, dalam kebiasaanku membaca ditentang langit barat, kutemui berbaris kalimat berikut : " satu hal jangan kita lupakan, bahwa kemampuan mengendalikan diri adalah syarat mutlak dari kemerdekaan yang inhaerent dengan atau pembawaan dari demokrasi. Memang, demokrasi yang dipergunakan oleh orang-orang yang kurang mampu mengendalikan diri dengan sendirinya akan meluncur kepada anarki, dan anarki akan disambut oleh diktator, diktator yang tidak kenal kepada kendali sama sekali..." Setelah menyampaikan tabiat ini, tulisan itu seolah menyeru " Dalam rangka inilah makannya senantiasa menyerukan, bahwa hidup berpolitik menyusun masyarakat dan negara, sama sekali tidaklah boleh dilepaskan daripada ketentuan-ketentuan susila dan moral yang tidak boleh sekali-kali kita perjual belikan atau permainkan. Yakni: bila disimpulkan berpolitik itu tdaklah boleh sama sekali dilepaskan dari ajaran agama yang menjadi sumber dari nilai-nilai hidup dan ukuran-ukuran moral itu." 

          Mulanya girang hati. karena menemukan tulisan yang berhubungan dan memberi penjelasan ini. Tapi apa efek dari pernyataan seperti dalam tulisan ini ? begitu kupikir .. Berapakah yang masih mau peduli segala urusan susila dan moral, juga agama! Dimanakah muda-mudi yang tidak menyengaja menyumpal lubang telinga ketika diperdengarkan kepadanya persoalan halal haram ? bukan malah menentang, menantang dengan cita rasa yang dangkal ! juga soal lidah yang bersiaga lincah ketika diperingatkan perkara bid'ah, demi meremehkannya. SEDIKIT! hanya segelintir. Secercah cahaya yang jangan sekali-kali padam, diharapkan! Semakin senja, ketika suara mengaji di masjid berhenti, memberi jeda, dan nafas muadzin bersiap meneriakan takbir, aku bangun bergegas sambil kutenggak habis kopi yang ternyata tinggal ampas. Senja itu, suara adzan kusahuti dengan suara batuk. lebih baik hidup dan mati dengan mengakui kebenaran ,sekalipun gagal memenuhi tuntutan-tuntutannya, ketimbang hidup atau mati tanpa mengeluarkan pendapat tentangnya atau menolaknya.

Didadikjaya ahad, 7 maret 2010

Jumat, 26 Februari 2010

Almamater Bernoda Darah


          Tragis sekali cerita ini. Seorang terbaring kaku disalah satu sudut terminal yang gelap dan basah, seorang mahasiswa lengkap dengan almamater dan ransel, juga dengan sembilan luka tusukan. Rupanya ia telah jadi korban perampokan di malam bergerimis itu, malam ketika ia pulang setelah siang yang melelahkan, berdemonstrasi di jalanan, berteriak lantang coba robek telinga tuli yang enggan peduli, korupsi mewabah negeri. Siksaan pada si miskin sampai mati, juga ia lawan biar sampai mati. 

          Cerita ini menjadi lebih menyedihkan lagi manakala diketahui kemudian bahwa, rupanya si perampok adalah ayah dari seorang anak yang bersekolah disebuah sekolah negeri, ya.. negeri kawan. Namun tidak cukup murah untuk mencegah sang ayah membuang akal sehatnya, bermodal sebilah pisau dan provokasi mulut-mulut bau tengik preman-preman terminal, kawan-kawannya dalam majelis banting kartu. Sungguh tengik mereka itu mengaharap sebagaian uang jahanam untuk memasukan minuman jahanam pula kedalam perutnya. Tak mau tahu mereka dompet seorang mahasiswa itu hanyalah selembar perjalanan pulang, tak akan mereka dapat barang sebotol minumanpun darinya, dan mereka lebih tidak mau tahu lagi uang selembar itu didapat dari usaha sendiri, usaha kecil bermodal besar dan mahal, waktu belajar, sebuah kewajiban utamanya sebagi mahasiswa. 

          Ketika diinterogasi, sang ayah, sang perampok, menjawab dengan hati terkoyak, seakan mohon jangan disalahkan kalau hatinya itu mati. Ruangan itu pun di penuhi suasana yang sangat emosional jadinya. Namun tidak ada yang lebih emosional dari malam kejadian, ketika ia menusukan pisau dengan brutal pada tubuh kurus beralmamater itu. Sambil menusuk sambil berteriak gila, sambil menangis pula, marah juga, entah pada siapa. Mungkin pada atasannya dahulu yang mengikutsertakannya dalam suatu 'permainan' dengan hasil kecil yang harus di bayar dengan pemecatan kemudian. Sedangkan atasan selamat tetap pada posisinya yang aman, pada kursinya yang merana menahan buncit perut dan besar bokongnya. Atau mungkin juga amarahnya itu bagi sekolah sang anak yang meminta uang masuk tak terjangkau oleh keringatnya dan harga semahal itu tidak berarti apa-apa ketika fasilitas sekolah tak memadai, bahkan alat kebersihan kelas, sepidol dan tintanya harus ditanggung sendiri oleh para siswa dengan uang kas senilai Rp5000,- sebulan. hei kau pahlawan tanpa tanda jasa! tak tahu kau, siswamu si anak perampok kesekolahpun berjalan kaki, tiada ongkos padanya, maka bagaimanakah dia harus menyisakan untuk uang kas? .. dan berpa jumlah siswamu itu? sekelas 40 orang? nah, berapa 5.000 dikali 40 ? ..sebanyak itu yang diperlukan untuk tinta dan sepidol selama sebulan ? sang ayah lebih jengkel ketika masa kenaikan kelas tiba. lima ratus ribu rupiah untuk perpisahan kelas keluar kota yang berjarak hanya dua jam? ia bahkan pernah keluar pulau dengan uang yang 5 kali lebih kecil dari itu. Bukan soal bayaran semata, tapi peraturan yang dibuat sekolah, barang siapa tidak ikut akan di beri penugasan, membuat laporan perjalanan minimal ke tiga tempat wisata. "Bah.. itu juga tidak murah, lantas bagaimana kalau tidak ikuti aturan itu? " kata sang ayah jengkel. "...nanti gak dapet nilai Yah" anaknya memelas, membayangkan kerja kerasnya akan sia-sia. cih, menilai hasil belajar dengan semampu apa orang tua siswa membiayai anaknya berwisata? apa ini namanya? kalau saja aku bergelar sarjana pendidikan mungkin akan ada kosa kata yang lebih baik dari pada goblog dan tolol ! kesal ia membatin. 

           Pikiran-pikiran diatas timbul tenggelam seperti pisau yang dihunuskannya bagi tubuh korban, sang mahasiswa demonstran. ketika anyir darah begitu menusuk, tepat pada tusukannya yang kesembilan tersadarlah ia korban tak lagi bernyawa. Basah oleh hujan darah itu tak lekas mngental, disapunya dari tangan kemudian digeledah seluruh isi tas yang hanya berisi buku catatan yang telah basah dan sebuah Mushaf al -Quran yang sebagaian lembarnya koyak oleh basah brutal gerayang tangan sang perampok, sang ayah dari seorang anak bersekolah. Kemudian jiwanya tergoncang, pembunuhan malam itu hanya berharaga lima ribu rupiah selembar uang dari dompet kulit lusuh tua, selembar uang pengantar pulang sang mahasiswa pada keluarga tersayang 

             Malam itu kawan, rekan-rekan, saudara saudariku, seorang mahasiswa beralamamter tewas ditangan orang dari golongan yang justru dibelanya. dibelanya walaupun sampai mati ! Sedang orang -orang yang menyaksikan pemakamannya tak tahu harus bersyukur atau tidak , bahwa ada sebagaian dari anak-anak mereka mengabaikan begitu saja ajaran bahwa surga tak pernah ada di bumi, bahwa tanah air ini, bahkan bumi ini tidak akan pernah benar-benar bersih, maka tak usah terlalu repot membersihkannya! Anak-anak yang selalu berjuang demi kondisi tanah air yang lebih baik, hasinya memang tidak akan benar-benar,setidaknya dialam ini. Dialam sana lain lagi ceritannya, tak ada gadis yang perlahan menua dan luntur daya tariknya kemudian, yang ada adalah bidadari yang kian hari kian menambah pesonanya. jadi bagaimana?kita berharap kisah ini akan selalu jadi cerita fiksi di negeri ini, ya mungkin. kecuali bagaian akhirnya ^_^ 

Bekasi, 15 febuari 2010 9:23